www.mursalzone.com

#Iklan
#Iklan

Abi Jawab Pertanyaanku

#Iklan
#Iklan

Aku adalah seorang anak kecil, usia ku hampir beranjak tujuh tahun masa itu, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, aku memiliki dua orang adik, dan ayahku seorang da’i..., Selain itu beliau juga memiliki usaha kecil-kecilan yang alhamdulillah mampu memenuhi kebutuhan kami. Apabila ayahku mempunyai jadwal memberikan ceramah atau berpidato ke suatu tempat, beliau sering membawa ku bersamanya.., yach, maklum saja kerana aku adalah anak sulung laki-laki sebagai penerus beliau. Sedangkan ibuku dirumah sahaja mengurusi adik-adik ku yang masih kecil yang lucu dan imut.

suatu hari seperti biasa aku diajak ayah menemani beliau berceramah(pidato) ke sebuah desa yang bertema tentang ”Ikhlash”, sebagai seorang anak yang baik dan pendengar yang budiman aku ikuti acara itu sampai habis, kala itu aku menyaksikan beliau memberikan nasihat kepada masyarakat dengan penuh semangat.


Setelah acara selesai aku dan ayahku pulang, seperti biasa aku duduk di sebelah kiri ayahku, karena aku masih kecil dan belum bisa nyetir mobil, beliaulah yang menyetirnya sendiri, insyaAllah jika kelak aku dewasa nanti aku ingin jadi melebihi seperti ayah. Menjadi seorang da’i dan mempunyai usaha sendiri..

Tat kala dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ayahku berhenti hingga membuat ku terjaga dari tidurku yang nyenyak. Aku mengira bahwasanya perjalanan kami sudah berakhir dan kami sudah sampai dikediaman tercinta kerana aku sangat merindukan kepada kasurku yang empuk. eh, ternyata kami baru sampai pada sebuah persimpangan.., tepatnya pada lampu lalulintas bahasa kerennya traffic light menyala warna merah sebagai isyarat harus berhenti, kemudian datang seorang pengemis mengetuk kaca pintu mobil kami, aku pun membuka kaca mobil dan ayahku menyuruh aku untuk memberikan shadaqah kepada pengemis itu sebanyak 500 rupiah. Setelah menunggu beberama menit, Lampu hijau pun menyala.., tandanya boleh melanjutkan perjalan lagi.

Ketika dalam perjalanan, aku sempat berfikir kok hanya diberikan 500 rupiah ya untuk si bapak pengemis.., kemudian sampailah kami di persimpangan selanjutnya dan posisi lampu lalulintas merah lagi, akhirnya kami berhenti lagi, lalu datanglah dua orang pengamen jalanan, yang satu memainkan alat musiknya dengan sungguh-sungguh dan yang satunya lagi sebagai penyanyi yang melantunkan lagu-lagu yang begiiituuu syahdu, mereka berdua tampak sangat serius dan sangat menghayati lantunan nya itu.. aku berfikir kenapa ya..?? mereka tidak berdzikir dan bershalawat saja, sebab selain mendapatkan uang lebih pentingnya lagi mereka memperoleh pahala tentunya dari Allah ’azzawajalla insyaAllah, kan lebih bermanfa’at dari pada melantunkan syair-syair cinta yang gak jelas itu..

Ehm, thaib next, seusai mereka bernyanyi ayahku menyuruhku memberikan uang sebanyak 1000 rupiah kepada mereka, aku pun melaksanakan perintah ayahku tercinta itu. Rasa penasaranku mulai muncul kembali, aku bertanya kepada beliau:”abi..?, kenapa abi menyuruhku memberikan uang kepada pengamen itu 1000 rupiah, sedangkan kepada bapak pengemis tadi engkau menyuruhku hanya memberikan 500 rupiah?”. lalu, ayahku berkata sambil menjalankan tugasnya yaitu menyetir mobil:”anakku..?,kan pengamen itu lebih banyak mengeluarkan tenaga dan membutuhkan peralatan yang banyak dari pada pengemis tadi..”.

Mendengar jawaban beliau aku masih belum merasa puas, apakah kerana aku masih belum cukup dewasa dalam menyingkapi persoalan itu??. Ahh, sudah lah.., umm.., mungkin juga iya kerana aku masih kecil.


Perjalanan kami masih berlanjut, dan aku masih terus berfikir tentang perihal yang berlangsung tadi, kemudian tibalah kami di pemberhentian pada lampu lalulintas berikutnya, lampunya juga berwarna merah. Aku berfikir bahwasanya kami akan berhenti lagi..., Tapi..., kali ini beliau tidak menghentikan mobil kami itu.. dan aku pun bertambah bingung.

Lalu tiba-tiba aku mendengarkan suara peluit dari belakang, eh, ternyata sumbernya dari pos polisi lalulintas. Ayahku pun berhenti, polisi itu mendekati kami, ayahku membuka kaca mobil pada posisi di sebelahnya.. tanpa begitu mengetahui pembicaraan mereka. Aku hanya melihat ayahku memberikan uang sebanyak 50 ribu rupiah kepada bapak polisi itu.

Aku bertambah bingung, kenapa ayahku memberikan uang sebanyak 50 ribu kepada bapak polisi itu.., aku bertanya lagi kepada ayahku itu:”abi..?, mengapa engkau memberikan uang kepada bapak polisi lebih banyak dari pada pengemis dan pengamen tadi abi.., padahalkan bapak polisi..??, punya gaji.., sedangkan mereka tidak..?”, dan ayahku hanya menjawab:”anakku.., kamu ini masih kecil. Sudah jangan banyak tanya..”. Mendengar Jawaban ayahku yang ke dua kalinya ini membuatku menambah confuse, membuat fikiranku terus berfikir.

Alhamdulillah tibalah kami dirumah, ayahku membunyikan clakson mobil, dan ibu ku yang lembut itu keluar membukakan pintu dan menjemput kami.. ibuku sambil memegang bahu ayahku dan membelai kepalaku, kami pun masuk ke dalam rumah.

Sesampainya dirumah, aku masih penasaran terhadap peristiwa saat kami masih dalam perjalanan, akhirnya aku bercerita lagi kepada ibuku tercinta, aku bertanya kepada ibuku :” ummi.., tadi abi menyuruhku untuk memberikan uang 500 rupiah kepada bapak pengemis, menyuruhku untuk memberikan uang kepada pengamen 1000 rupiah, aku pun melihat abi memberikan uang kepada bapak polisi sebanyak 50 ribu rupiah. Ketika acara ceramah tadi sudah usai.. kami beranjak akan pulang, aku juga melihat panitia menyalami abi dengan amflop yang berisi sejumlah uang. Aku bingung, ummi..?, samakah abi dengan seorang bapak pengemis jalanan tadi..?, samakah abi dengan seorang pengamen di persimpangan tadi..?, dan apakah sama juga dengan bapak polisi lalulintas yang menerima uang dari abi tadi..??”. Namun.., Aku hanya melihat senyum dari bibir ibuku tercinta itu..

Saudaraku..

Adapun perbedaan ilmu masa dahulu dan sekarang adalah ilmu dahulu itu sukar didapat, murah harganya, berkat ’ilmunya hingga membekas dijiwa..

Ilmu sekarang itu.., mudah didapat, mahal harganya, kurang keberkatannya dan ibarat menyiram air didaun talas meski disiram akan jatuh ketanah jua..

Saudaraku..

Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu'allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya."

Saudaraku..

Maafkanlah dosa orang yang murah hati, kekeliruan seorang ulama dan tindakan seorang penguasa yang adil. Sesungguhnya Allah Ta'ala membimbing mereka apabila ada yang tergelincir. (HR. Bukhari)

Saudaraku..

Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti." Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud "Rabbani"' ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar).(HR.Bukhari)

Saudaraku..

Abu Wa-il berkata, "Abdullah pada setiap hari Kamis memberikan peringatan (yakni mengajar ilmu-ilmu keagamaan kepada orang banyak). Kemudian ada seseorang berkata, "Wahai ayah Abdur Rahman, aku sebenarnya lebih senang andaikata kamu memberikan peringatan kepada kami setiap hari." Abdullah menjawab, "Ketahuilah, sesungguhnya ada satu hal yang menghalangiku untuk berbuat begitu, yaitu aku tidak senang membuatmu bosan, dan sesungguhnya aku akan memberikan nasihat (pelajaran) kepada kamu sebagaimana Nabi saw. (dalam satu riwayat dari Abu Wa-il, ia berkata, "Kami menantikan Abdullah, tiba tiba datanglah Zaid bin Muawiyah, lalu kami berkata kepadanya, "Apakah Anda tidak duduk?" Ia menjawab, "Tidak, tetapi saya akan masuk dan meminta sahabatmu itu keluar kepadamu. Kalau tidak, maka saya akan duduk." Lalu Abdullah keluar sambil menggandeng tangannya, lalu ia berdiri menghadap kami seraya berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi tahu tentang keberadaanmu (kedatanganmu), tetapi yang menghalangiku untuk keluar kepadamu ialah karena Rasulullah saw. 7/169) biasa memberi kami nasihat pada beberapa hari tertentu dalam seminggu karena khawatir (dan dalam satu riwayat: tidak suka) membuat kami bosan."

(HR.Bukhari)

Saudaraku..

Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, bahwa ia, berselisih pendapat dengan Hurr bin Qais bin Hishin Al-Fazari perihal kawan Nabi Musa yakni orang yang dicari Nabi Musa a.s.. Ibnu Abbas mengatakan bahwa kawan yang dimaksud itu ialah Khidhir, sedangkan Hurr mengatakan bukan. Kemudian lewatlah Ubay bin Ka'ab [al-Anshari 8/ 193] di depan mereka. Ibnu Abbas lalu memanggilnya kemudian berkata, "Sesungguhnya aku berselisih pendapat dengan sahabatku ini siapa kawan Musa yang olehnya ditanyakan mengenai jalan untuk menuju tempatnya itu, agar dapat bertemu dengannya. Apakah kamu pernah mendengar hal-ihwalnya yang kamu dengar sendiri dari Nabi saw?" Ubay bin Ka'ab menjawab, "Ya, saya mendengar Rasulullah saw. [menyebut-nyebut hal-ihwalnya 1/27]. Beliau bersabda, 'Ketika Musa duduk bersama beberapa orang Bani Israel, [tiba-tiba seorang laki-laki datang dan bertanya kepadanya (Musa), 'Adakah seseorang yang lebih pandai daripada kamu?' Musa menjawab, 'Tidak." Maka, Allah menurunkan wahyu kepada Musa, "Ada, yaitu hamba Kami Khidhir." Musa bertanya kepada (Allah) bagaimana jalan ke sana (pada suatu riwayat : bagaimana cara bertemu dengannya 1/8). Maka, Allah menjadikan ikan sebagai sebuah tanda baginya dan dikatakan kepadanya, 'Apabila ikan itu hilang darimu, maka kembalilah (ke tempat di mana ikan itu hilang) karena engkau akan bertemu dengannya (Khidhir). 'Maka, Musa pun mengikuti jejak ikan laut. Murid Musa berkata kepadanya, 'Adakah kamu melihat ikan berdiam yakni ketika beristirahat di batu besar. Sesungguhnya aku terlupa kepada ikan hiu itu dan tiada yang membuat aku lupa tentang hal itu, melainkan setan.' Musa berkata, 'Kalau demikian, memang itulah tempat yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Kemudian mereka bertemu dengan Khidhir. Maka, apa yang terjadi pada mereka selanjutnya telah diceritakan Allah Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya." (dikeluarkan oleh bukhari)

Saudaraku..

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khattab radiyallahu’anhu) dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’”(Bukhari wa Muslim).

wallahua’lam bish-shawab..

Barakallahufikum..

#Iklan
#Iklan
close[CLICK 2x UNTUK MENUTUP]
#Iklan