
Aku adalah seorang anak kecil, usia ku hampir beranjak tujuh tahun masa itu, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, aku memiliki dua orang adik, dan ayahku seorang da’i..., Selain itu beliau juga memiliki usaha kecil-kecilan yang alhamdulillah mampu memenuhi kebutuhan kami. Apabila ayahku mempunyai jadwal memberikan ceramah atau berpidato ke suatu tempat, beliau sering membawa ku bersamanya.., yach, maklum saja kerana aku adalah anak sulung laki-laki sebagai penerus beliau. Sedangkan ibuku dirumah sahaja mengurusi adik-adik ku yang masih kecil yang lucu dan imut.
Setelah acara selesai aku dan ayahku pulang, seperti biasa aku duduk di sebelah kiri ayahku, karena aku masih kecil dan belum bisa nyetir mobil, beliaulah yang menyetirnya sendiri, insyaAllah jika kelak aku dewasa nanti aku ingin jadi melebihi seperti ayah. Menjadi seorang da’i dan mempunyai usaha sendiri..
Ehm, thaib next, seusai mereka bernyanyi ayahku menyuruhku memberikan uang sebanyak 1000 rupiah kepada mereka, aku pun melaksanakan perintah ayahku tercinta itu. Rasa penasaranku mulai muncul kembali, aku bertanya kepada beliau:”abi..?, kenapa abi menyuruhku memberikan uang kepada pengamen itu 1000 rupiah, sedangkan kepada bapak pengemis tadi engkau menyuruhku hanya memberikan 500 rupiah?”. lalu, ayahku berkata sambil menjalankan tugasnya yaitu menyetir mobil:”anakku..?,kan pengamen itu lebih banyak mengeluarkan tenaga dan membutuhkan peralatan yang banyak dari pada pengemis tadi..”.
Perjalanan kami masih berlanjut, dan aku masih terus berfikir tentang perihal yang berlangsung tadi, kemudian tibalah kami di pemberhentian pada lampu lalulintas berikutnya, lampunya juga berwarna merah. Aku berfikir bahwasanya kami akan berhenti lagi..., Tapi..., kali ini beliau tidak menghentikan mobil kami itu.. dan aku pun bertambah bingung.
Saudaraku..
Adapun perbedaan ilmu masa dahulu dan sekarang adalah ilmu dahulu itu sukar didapat, murah harganya, berkat ’ilmunya hingga membekas dijiwa..
Ilmu sekarang itu.., mudah didapat, mahal harganya, kurang keberkatannya dan ibarat menyiram air didaun talas meski disiram akan jatuh ketanah jua..
Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu'allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya."
Saudaraku..
Maafkanlah dosa orang yang murah hati, kekeliruan seorang ulama dan tindakan seorang penguasa yang adil. Sesungguhnya Allah Ta'ala membimbing mereka apabila ada yang tergelincir. (HR. Bukhari)
Saudaraku..
Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti." Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud "Rabbani"' ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar).(HR.Bukhari)
Saudaraku..
Abu Wa-il berkata, "Abdullah pada setiap hari Kamis memberikan peringatan (yakni mengajar ilmu-ilmu keagamaan kepada orang banyak). Kemudian ada seseorang berkata, "Wahai ayah Abdur Rahman, aku sebenarnya lebih senang andaikata kamu memberikan peringatan kepada kami setiap hari." Abdullah menjawab, "Ketahuilah, sesungguhnya ada satu hal yang menghalangiku untuk berbuat begitu, yaitu aku tidak senang membuatmu bosan, dan sesungguhnya aku akan memberikan nasihat (pelajaran) kepada kamu sebagaimana Nabi saw. (dalam satu riwayat dari Abu Wa-il, ia berkata, "Kami menantikan Abdullah, tiba tiba datanglah Zaid bin Muawiyah, lalu kami berkata kepadanya, "Apakah Anda tidak duduk?" Ia menjawab, "Tidak, tetapi saya akan masuk dan meminta sahabatmu itu keluar kepadamu. Kalau tidak, maka saya akan duduk." Lalu Abdullah keluar sambil menggandeng tangannya, lalu ia berdiri menghadap kami seraya berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi tahu tentang keberadaanmu (kedatanganmu), tetapi yang menghalangiku untuk keluar kepadamu ialah karena Rasulullah saw. 7/169) biasa memberi kami nasihat pada beberapa hari tertentu dalam seminggu karena khawatir (dan dalam satu riwayat: tidak suka) membuat kami bosan."
(HR.Bukhari)
Saudaraku..
Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, bahwa ia, berselisih pendapat dengan Hurr bin Qais bin Hishin Al-Fazari perihal kawan Nabi Musa yakni orang yang dicari Nabi Musa a.s.. Ibnu Abbas mengatakan bahwa kawan yang dimaksud itu ialah Khidhir, sedangkan Hurr mengatakan bukan. Kemudian lewatlah Ubay bin Ka'ab [al-Anshari 8/ 193] di depan mereka. Ibnu Abbas lalu memanggilnya kemudian berkata, "Sesungguhnya aku berselisih pendapat dengan sahabatku ini siapa kawan Musa yang olehnya ditanyakan mengenai jalan untuk menuju tempatnya itu, agar dapat bertemu dengannya. Apakah kamu pernah mendengar hal-ihwalnya yang kamu dengar sendiri dari Nabi saw?" Ubay bin Ka'ab menjawab, "Ya, saya mendengar Rasulullah saw. [menyebut-nyebut hal-ihwalnya 1/27]. Beliau bersabda, 'Ketika Musa duduk bersama beberapa orang Bani Israel, [tiba-tiba seorang laki-laki datang dan bertanya kepadanya (Musa), 'Adakah seseorang yang lebih pandai daripada kamu?' Musa menjawab, 'Tidak." Maka, Allah menurunkan wahyu kepada Musa, "Ada, yaitu hamba Kami Khidhir." Musa bertanya kepada (Allah) bagaimana jalan ke sana (pada suatu riwayat : bagaimana cara bertemu dengannya 1/8). Maka, Allah menjadikan ikan sebagai sebuah tanda baginya dan dikatakan kepadanya, 'Apabila ikan itu hilang darimu, maka kembalilah (ke tempat di mana ikan itu hilang) karena engkau akan bertemu dengannya (Khidhir). 'Maka, Musa pun mengikuti jejak ikan laut. Murid Musa berkata kepadanya, 'Adakah kamu melihat ikan berdiam yakni ketika beristirahat di batu besar. Sesungguhnya aku terlupa kepada ikan hiu itu dan tiada yang membuat aku lupa tentang hal itu, melainkan setan.' Musa berkata, 'Kalau demikian, memang itulah tempat yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Kemudian mereka bertemu dengan Khidhir. Maka, apa yang terjadi pada mereka selanjutnya telah diceritakan Allah Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya." (dikeluarkan oleh bukhari)
Saudaraku..
Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khattab radiyallahu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’”(Bukhari wa Muslim).
Barakallahufikum..
